Wajib Tahu! Ini Perbedaan Properti Syariah dan Konvensional

Dalam dunia properti, terdapat dua hal yang kerap diperbincangkan, yakni properti berbasis Syariah dan properti konvensional. Tentu saja keduanya memiliki perbedaan di beberapa bagian. Pada intinya, properti Syariah merupakan proses transaksi properti sesuai dengan aturan Islam. Namun, untuk lebih jelasnya, perhatikan perbedaan berikut ini.

Perbedaan Properti Syariah dan Konvensional

1. Perbedaan pada sistem transaksi

Perbedaan pertama terletak pada proses atau metode transaksinya. Transaksi atau akad mempunyai peran yang cukup penting di dalam kesuksesan proses pindah tangan kepemilikan sebuah properti. Sesuai dengan syariat Islam, setidaknya terdapat 4 jenis akad yang boleh diterapkan.

Yang pertama adalah jual beli atau murabahah. Murabahah merupakan sebuah perjanjian yang dilakukan oleh konsumen dengan pihak developer. Pada hal ini, perjanjian yang dilakukan oleh keduanya menggunakan sistem cicilan tanpa bunga.

Kedua adalah sewa beli atau ijarah muntahiya. Istilah ini mengacu pada kepemilikan properti dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.

Yang ketiga adalah sewa atau ijarah. Ijarah adalah menggunakan barang yang telah dibayar sesuai dengan kesepakatan kedua pihak dalam waktu tertentu hingga masa sewanya selesai.

Yang terakhir adalah kepemilikan bertahap atau mutanaqishah. Mutanaqishah berarti kepemilikan bersama yang telah disepakati pihak pembeli dan developer sehingga hak kepemilikan tersebut berkurang.

Di sisi lain, transaksi properti konvensional hanya terdapat satu jenis akad saja, yakni jual beli yang berbasis pinjaman.

2. Perbedaan pada pihak yang terlibat

Dilihat dari pihak yang terlibat, properti berbasis Syariah hanya melibatkan dua pihak, yakni developer atau pengembang properti dan pembeli. Transaksi jual beli ini dilakukan secara langsung. Namun, untuk memudahkan proses transaksi yang dilakukan, beberapa pengembang telah bekerja sama dengan lembaga keuangan Syariah sebagai mediator.

Untuk lembaga properti konvensional, biasanya proses transaksi melibatkan tiga pihak, yakni penjual, pembeli, dan pihak bank untuk pembayaran kredit. Pihak dari bank ini yang sering kali menjadi penyebab munculnya riba di dalam properti yang konvensional. Oleh sebab itu, beberapa kalangan masyarakat mulai meninggalkan properti konvensional.

3. Perbedaan dari sistem cicilan

Sistem cicilan yang digunakan juga berbeda. Pada properti berbasis Syariah proses cicilan biasanya bersifat flat atau tanpa ada kenaikan hingga properti dicicil lunas. Dalam cicilannya juga tidak ada bunga sama sekali. Lain halnya dengan properti konvensional yang cicilannya cenderung tidak tetap, bisa naik atau turun tergantung kondisi. Jika harga properti naik, maka suku bunga juga naik.

Itulah beberapa perbedaan antara properti Syariah dan konvensional. Dengan mengetahui perbedaan tersebut, Anda bisa memutuskan apakah ingin tetap membeli properti secara konvensional atau secara Syariah. Jika dilihat dari perbedaan tersebut, bisa dikatakan properti berbasis Syariah lebih menguntungkan dan memudahkan untuk pihak pembeli dan penjual.

Tagged ,